-Goresan-

-Dedicated to :: Manusia Tanpa Raga ::-

…..Saat lukisan wajahmu tergambar jelas di pelupuk mataku, Saat aku ingin hidupkan gelora jiwaku di sisi kesendirian hidupku. Saat aku hanya bisa menyadari bahwa hati hanya ingin sendiri setelah kau pergi…;
Saat kata-katamu dan senandungmu membuncah disela-sela sukmaku, disaat aku sepi dengan hidupku dan masih ada harap menantimu….terasa panjang perjalanan ini

Terasa berat tangan Raida menuliskan kata-kata itu. Ribuan rintik tangis mehujam dadanya, tak nampak di antara wajah ayunya. Namun dari sorot mata indahnya, tergambar jelas ada kesedihan yang mendalam. Seolah ada secuil jiwa dari dirinya yang menghilang. Tangannya gemetar menarikan pena di atas kertas yang di pangkunya. Sesekali bening matanya menatap senja di ufuk barat yang menorehkan goresan jingga di cakrawala.

Dua bulir bening air mata, terbit dari telaga matanya. Menetes melewati halus pipinya;…
Terdengar isak lembut, tak sekalipun Raida menghapus air matanya. Seolah dia memang benar-benar ingin melegakan  jiwanya dengan menangis. Di alam bebas ini, dia merasakan kelegaan. Dia ingin angin membawa kesedihannya pergi, dia ingin luka dihatinya mengering dan tak membebaninya lagi.

Terlalu asyik menangis rupanya gadis ayu itu. Tak disadarinya, air matanya telah membasahi tulisan indah di pangkuannya. Memudar sudah, namun masih jelas terbaca;

"aduh..tulisanku.." Ucapnya perlahan, seraya buru-buru mengeringkan air mata yang menggenang di atas kertas.
Masih di bacanya perlahan goresan tangannya.
"Masih terbaca " Gumamnya perlahan

Kemudian dengan perlahan di lanjutkannya menuliskan beberapa baris kalimat.

Air mataku dengan mudah meneriakkan tangisnya, namun jiwaku tak mampu mengusung senyum ke dalam dadanya. Andai semudah air mata memudarkan goresan luka yang ada di kertas ini, ingin rasanya ku beli telaga air mata untuk membasuh duka ini. Kau harus tahu; kehilangan ini bukan karena kecewa, namun karena satu hati yang pernah kuberi rasa tak mampu lagi membuatku tertawa.

Setelah usai menggoreskan pena, Raida mulai menghapus air matanya. Dirapikannya kembali wajah ayunya seperti sedia kala. Angin nakal mempermainkan mahkota indahnya, sehingga tata letaknya sedikit berantakan. Namun cantik tetap menjadi miliknya.

Senja mulai berduyun-duyun membawa kegelapan malam, bias sinar mentari mulai berpamitan perlahan. Tinggal menanti mimpi dan semuanya akan berganti. Raida beranjak dari duduknya dan bergegas pulang. Sembari berjalan dalam hatinya bergumam
"Biarkan saja hari ini, semoga esok pagi luka ini terobati"


Jangan_diambilyahhihiihihhi

Leave a Reply